Sunday, 15 March 2020

First Color - Cinta Monyet

Halo semuanya, kali ini saya akan bercerita tentang masa kecil saya dan fokus ke masalah percintaan yang saya alami. Untuk cerita tentang hal diluar cinta dan sex, akan saya ceritakan di bagian terpisah. Lahir di pertengahan tahun 80an, di sebuah desa terpencil yang jauh dari dari kota besar , membuat saya masih mengalami masa-masa tanpa listrik. Saya ingat betul, listrik mulai masuk ke desa saya sekitar tahun 90an akhir, ketika saya kelas 4-5 sekolah dasar. 

Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Meskipun saya terlahir sebagai anak lelaki, pada waktu kecil saya justru merasa lebih nyaman bermain dan berteman dengan anak wanita, tentu dengan permainan khas anak perempuan. Bermain boneka, rumah-rumahan, masak-masakan, dan sebagainya adalah rutinitas kami, saya dan teman-teman perempuan saya, setiap pulang sekolah. Koleksi mainan saya pun hampir semuanya adalah mainan anak perempuan, bahkan koleksi boneka kertas (BP/Bongkar Pasang) dan aksesorisnya (Tempat tidur dari kotak rokok, kursi dari kertas, meja dari tutup botol) saya sampai berkardus-kardus jumlahnya. Meskipun saya senang bermain dengan anak perempuan, tetapi saya sangat marah dan kesal jika ada yang meledek saya dengan sebutan banci atau bencong. Saya merasa apa salahnya seorang anak lelaki memainkan permainan anak perempuan, yang penting kami semua bergembira dan tidak meyebabkan keributan. Pernah beberapa kali saya dan teman-teman perempuan saya berantem dengan anak lelaki yang meledek saya. Akan tetapi semakin saya beranjak remaja, saya semakin menyadari bahwa saya tidak hanya sekedar senang bermain dengan teman-teman perempuan saya saja, saya juga semakin merasa kalau saya lebih bahagia jika seandainya saya terlahir sebagai seorang perempuan. Ya, ada satu titik dimana saya merasa kalau saya ingin menjadi wanita. 

Setiap malam saya membayangkan kalau saja saya terlahir sebagai wanita, dengan nama wanita, dengan penampilan wanita yang sangat saya idam-idamkan, rambut panjang, wajah cantik dan penampilan yang menawan, itulah khayalan saya jika saya terlahir sebagai wanita. Saya yang waktu itu menginjak usia remaja, mulai merasakan yang namanya cinta monyet, dengan anak lelaki tentunya. Meskipun semua drama percintaan ini hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi saya sangat menikmatinya. Di dunia nyata, saya mungkin tidak akan pernah bisa menjadi pacar para anak lelaki yang saya taksir itu, tapi di dunia khayal, dimana sayalah yang berkuasa, mereka semua adalah lelaki yang mengejar-ngejar saya. Kalau ada anak lelaki yang saya taksir, maka saya akan menyeretnya ke dunia khayal saya, membayangkan kami saling tertarik, lengkap dengan semua drama percintaan anak SMP yang penuh dengan hal-hal sederhana yang manis dan konyol. Banyak dari para anak lelaki itu yang merupakan teman sekelas saya, kadang tetangga kampung yang saya kenal sepintas, bahkan terkadang hanya seorang anak yang saya lihat di perjalanan ke sekolah yang bahkan saya tidak tahu siapa namanya. Tapi itu soal mudah, saya bisa memberi dia nama apapun yang saya inginkan, yang menurut saya sesuai dengan penampilannya. Saya bahkan bisa menciptakan keluarganya, teman-temannya, bahkan cara bicaranya. Dalam khayalan saya, semua sangat mungkin. Dan ketika ingatan dan perasaan saya terhadap anak lelaki itu mulai memudar, saya akan dengan mudah menemukan sosok penggantinya, bahkan dari tokoh fiksi salah satu sinetron mingguan yang menjadi tontonan saya dan warga sekampung setiap malam harinya. 

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, tepatnya ketika saya mulai mampu merasakan rangsangan sexual, saya merasa bahwa hei, dalam dunia khayalan saya, saya juga bisa tetap menjadi lelaki dan mencintai seorang lelaki, tanpa harus berpura-pura terlahir sebagai seorang wanita. Dari situ kemudian saya merubah tokoh dalam khayalan saya yang awalnya adalah seorang wanita menjadi seorang lelaki, ya saya sendiri, dengan nama dan penampilan asli saya. Dalam dunia khayal saya yang baru, saya membayangkan bahwa hubungan asmara antara seorang lelaki dengan lelaki lain adalah sama normalnya dengan hubungan seorang lelaki dan seorang wanita. Saat memasuki SMP kelas tiga, saya mulai mengalami mimpi basah, kemudian saya ketagihan dengan yang namanya sex. Seminggu bahkan terkadang dua atau tiga kali saya melakukan mastrubasi, tentu dengan membayangkan wajah dan tubuh pacar khayalan saya, yang terkadang merupakan seseorang yang saya kenal di dunia nyata. Semua khayalan saya tentang hubungan romantis antar sesama lelaki tentu hanya ada dalam imajinasi saya, tidak ada yang benar-benar saya jalani dalam kehidupan nyata. Saya juga tidak kepikiran untuk mengutarakan perasaan saya kepada orang yang saya taksir, saat orang yang saya khayalkan tersebut kebetulan adalah orang yang saya kenal. Akan tetapi ada satu moment dimana saya bisa dibilang benar-benar nekat untuk melakukannya. 

Jadi ceritanya saat itu pacar khayalan saya ini adalah kakak kelas saya satu tingkat yang kebetulan merupakan tetangga satu kampung, hanya saja rumahnya tidak berdekatan tapi masih satu kampung jadi kami terkadang sering bertemu. Suatu hari, saudara dari si lelaki yang saya taksir ini mengadakan acara hajatan (khitanan), kebetulan jika ada acara hajatan di kampung, maka saat malam setelah acara, akan diadakan syukuran yang diikuti oleh semua lelaki, tua muda, yang diakhiri dengan pembagian besek yang isinya adalah nasi, lauk pauk, sayuran dan kue-kue khas hajatan. Setelah acara syukuran selesai, saya dan teman-teman saya (anak lelaki dan anak perempuan) waktu itu tidak langsung pulang, kami bermain-main di sekitaran rumah yang punya hajat karena kondisinya masih sangat terang oleh cahaya lampu. Saat kami bermain petak umpet, saya bersembunyi ke bagian belakang rumah yang punya hajat. Di bagian belakang ini terdapat tempat masak yang sudah mulai di rapihkan karena acaranya sudah berakhir. Disana, diatas tumpukan karung beras hasil undangan para warga, saya melihat dia, lelaki yang saya taksir itu, seorang diri tengah tertidur pulas sekali. Saya kemudian mendekatinya, saya pandangi wajahnya lekat-lekat. Lelaki khayalan saya ini merupakan seorang anak lelaki dengan tampang lugu, berkulit bersih hampir seperti orang China, hanya saja matanya tidak sipit. Tidak puas hanya dengan memandang wajahnya, pelan-pelan saya belai pipinya. Entah kekuatan dari mana, tiba-tiba saya cium pipi kanannya dengan pelan-pelan karena takut dia terbangun. Halus dan lembut pipinya bahkan masih bisa saya rasakan sampai hari ini. Setelah itu saya kemudian pergi dan melanjutkan permainan bersama teman-teman saya. 

Sampai di rumah, saya pun kemudian mulai masuk ke dunia khayal saya, membayangkan suatu skenario dimana pada akhirnya saya bisa mencium dan memeluk lelaki yang saya taksir tersebut. Dari situlah kemudian saya mulai rajin dan ketagihan melakukan mastrubasi sambil membayangkan wajah pacar khayalan saya. Oya, cara saya bermasturbasi saat itu hanya dengan mengocok alat kelamin saya, tidak sampai memasukan sesuatu ke lubang anus saya, karena waktu itu saya belum kepikiran tentang hal-hal seperti itu. Sampai saya kemudian lulus SMP dan mulai masuk ke jenjang yang lebih tinggi, sayapun menjalani pengalaman asmara yang mulai berbeda yang akan saya ceritakan di postingan selanjutnya.

No comments:

Post a Comment